*Aksi Talibuy SMPN 1 Kunjang: Menyemai Budaya Lokal Lidah Buaya dan Kebersamaan Warga Sekolah

Kunjang, 12 Maret 2026* — Upaya melestarikan budaya lokal tidak selalu harus dilakukan melalui ruang kelas. Hal inilah yang dibuktikan oleh warga **SMPN 1 Kunjang** melalui kegiatan bertajuk *Aksi Tanam Lidah Buaya (Talibuy)*. Mengangkat potensi lokal sebagai kekuatan pembelajaran, kegiatan ini menjadi sarana edukatif sekaligus pengalaman nyata bagi murid untuk mengenal, merawat, dan mengembangkan tanaman khas daerah mereka.
Lidah buaya (*Aloe vera*) merupakan tanaman yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kunjang. Tanaman ini memiliki ciri daun tebal, berdaging, dengan tepi bergerigi halus dan mengandung gel bening yang kaya manfaat. Selain mudah tumbuh, lidah buaya juga tahan terhadap kondisi cuaca panas, sehingga cocok ditanam di lingkungan rumah maupun sekolah.
Di Kunjang, lidah buaya bukan sekadar tanaman biasa. Daerah ini dikenal sebagai salah satu penghasil dan pengekspor lidah buaya terbesar di Kediri. Oleh karena itu, mengenalkan tanaman ini kepada generasi muda menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal.
Kegiatan Talibuy terlaksana berkat kerja sama dengan PT Keong Nusantara Abadi yang berlokasi di Jl. Raya Bogo Kunjang. Perusahaan tersebut memberikan dukungan berupa 270 bibit lidah buaya secara gratis serta pendampingan langsung dalam proses penanaman dan perawatan.

Seluruh murid kelas 7, 8, dan 9 dibagi ke dalam kelompok kecil, masing-masing bertanggung jawab atas 10 tanaman. Mereka mendapatkan pembekalan tentang:
* Karakteristik tanaman lidah buaya
* Teknik penanaman (komposisi tanah dan sekam)
* Jarak tanam ideal
* Cara perawatan agar tanaman tumbuh optimal
Penanaman serempak dilaksanakan pada 6 Maret 2026 di halaman sekolah, menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan.
Menariknya, dalam kegiatan ini murid mengenakan kostum khas petani—mulai dari kaus lengan panjang, daster, hingga caping. Hal ini menjadi simbol kedekatan mereka dengan profesi mayoritas masyarakat setempat.
Meski berlangsung di tengah bulan Ramadan, semangat murid dan guru tetap tinggi. Mereka bekerja sama menanam, menyiram, dan memastikan setiap tanaman tertata rapi.
“Jaraknya harus pas supaya nanti tidak saling berhimpitan saat tumbuh besar,” ujar Galang, murid kelas 8E.
Selain belajar menanam, murid juga dikenalkan pada manfaat lidah buaya, di antaranya:
* Melembapkan kulit dan rambut
* Mengandung vitamin A, C, dan E
* Bersifat antioksidan dan antibakteri
* Membantu penyembuhan luka ringan
Pengetahuan ini kemudian dikembangkan menjadi rencana aksi lanjutan berupa pengolahan produk berbahan dasar lidah
Salah satu hasil pembelajaran adalah pembuatan prototipe produk non-makanan, seperti:
* Sampo alami lidah buaya
* Gel perawatan kulit
* Masker wajah sederhana
Kegiatan ini melatih kreativitas, kewirausahaan, sekaligus pemahaman manfaat tanaman lokal dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap kelompok memiliki tanggung jawab dalam merawat tanaman, meliputi:
* Penyiraman rutin
* Membersihkan gulma
* Memantau pertumbuhan tanaman
* Melaporkan perkembangan secara berkala
Pendampingan dari guru dan pihak perusahaan memastikan tanaman tetap terawat
Kepala SMPN 1 Kunjang, Kristien Endah Riwayati, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan seluruh pihak. Ia berharap kegiatan ini menjadi awal bagi murid untuk lebih mengenal dan mencintai lingkungan sekitar.
Melalui Aksi Talibuy, murid tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik nyata yang berdampak langsung. Mereka memahami bahwa melestarikan budaya lokal bisa dimulai dari hal sederhana—seperti menanam dan merawat tanaman khas daerah.
Lebih dari itu, kegiatan ini menumbuhkan nilai kebersamaan, tanggung jawab, dan kepedulian lingkungan. Talibuy bukan sekadar program sekolah, melainkan gerakan kecil yang membawa makna besar bagi masa depan budaya lokal Kunjang.






